Kamis, 04 April 2013

Akhirnyahh...

Seperti yang sudah2, kali ini gw bakal bahas proses resign gw. Kali ini sepertinya bakal jadi postingan terakhir gw mengenai resign nya gw dari sini. Dan biar pembaca ga bosen (tsaaahh...) gw bakal ceritain dalam bentuk dialog.
Check this out!
 
Suatu pagi di hari kerja nan cerah, gw menghampiri meja Boss Expat Aneh gw sambil membawa aplikasi resign letter gw.
 
Gw (G) : (bawa amplop coklat berisi aplikasi resign letter yang sudah di ttd Daddy dan pak General Manager sambil pasang senyum paling manis) "Selamat pagi, Kawasaki san. Maaf mengganggu, saya hendak menyerahkan ini." (ngasih amplop coklatnya)
 
Boss Expat Aneh (BEA) : "Ya, pagi. Thank you." (mukanya masih tanpa ekpresi, karena masih pagi. kemudian buka amplop coklat dari gw)
 
BEA : "What is this?" (mungkin karena gw kasi aplikasinya pake bahasa emak gw, alias bahasa Indonesia, bukan bahasa persatuan di kantor gw, Boss Expat gw kaga ngerti)
 
G : "This is my resignation letter, sir" (masih pasang senyum manis)
 
BEA : (di mukanya uda ada ekpresi sekarang. And u know what? Ekpresi yang muncul adalah ekpresi senang. Dia pun tersenyum manis) "oh, oke. I'l see."
 
G : (Gw ga shock sama ekpresi yang muncul. Dari dulu dia emang sepertinya pengen gw resign dengan cara nya dia 'membenci' gw) "Can i ask your sign here sir?" (nunjukkin dimana dia harus ttd. Tentunya disamping ttd Daddy dan ttd pak General Manager gw)
 
BEA : (ambil pulpen dan cap ttd nya. Trus mikir2 lagi...) "Sorry, i'l keep this and will give to you soon" (pasang muka berwibawa, pulpen dan cap ttd nya di taro lagi)
 
G : "Thanks, sir" (gw pun balik kanan, balik ke meja gw)
 
BEA : (ngomong ke pak General Manager gw) "Trismawan san, we have meeting right now" (sambil bawa agenda nya plus aplikasi gw, Boss Expat gw pun ke ruang meeting)
 
Pak General Manager (PGM) : (berjalan mengikuti Boss Expat gw dari belakang)
 
-----Mereka pun meeting di ruang meeting. Gw ga tau apa yang mereka bicarakan. Tapi, gw mengkhayalkan kalau kejadiannya bakal seperti ini (cek dialog dibawah)-----
 
BEA : "Look at this! (sambil mengacungkan aplikasi gw). Finally she's out from here!" (pasang senyum manis)
 
PGM : (Mungkin dalem hati nya bakal bilang "gw uda tau kalee kalo Sonna mo resign". Tapi PGM pasang muka acuh seperti biasanya) "Hmmm, yeah."
 
BEA : (Masih senyum) "Sounds great yeah! Lets party!" -gw tau, kalo yang ini mungkin gw terlalu lebay. hahahahahaha-
 
PGM : "What party? Roni will resign too"
 
BEA : (Perlahan senyumpun memudar dari wajahnya, dan berganti dengan mengerucutkan bibirnya beberapa senti kedepan. Seperti biasanya) "WHAT!!!"

Boss Expat gw pun galau sambil berlari ke pantry buat nangis dibawah dispenser. Karena di kantor gw ga ada shower buat nangis dibawahnya, Maupun ga ada tiang2 buat nangis sambil hujan2an. -oke, yang ini karangan bebas gw aja-
 
-----Meeting pun selesai, dan BEA keluar dari ruangan meeting sambil manyun-----
 
Daddy (D) : (Begitu melihat BEA sampai di mejanya, selesai meeting) "Sorry, can i ask your time for a second please?" (sambil bawa amplop coklat yang isinya aplikasi resign letter nya daddy)
 
BEA : (Karena uda tau apa yang akan terjadi, alias daddy bakal ngundurin diri, langsung ambil sikap skeptis) "Sorry, i have no time today"
 
D : (mundur perlahan) "Thanks"
 
Dan berulang kali daddy minta waktu sama Boss Expat gw itu, jawabannya selalu sama. Padahal yang kita semua tau, kalo Boss Expat gw ini ga ada kerjaan selaen ngecek email2 dia, kasih intruksi sana sini (yang sebenernya tanpa intruksi dia kita uda tau harus ngapain) dan nemuin tamu Jepang (karena dia orang Jepang).
 
Sampai kemarin sore, di jam pulang, mau ga mau Boss Expat gw nyerah juga sama Daddy. Mereka pun ke ruang meeting dan eksekusi dilaksanakan.
 
2 hari aplikasi gw dibawa2 kemanapun Boss Expat gw pergi dan Daddy selalu mendapatkan jawaban yang sama kalo 'dia' ga ada waktu, akhirnya hari kemarin, diujung hari, Boss Expat gw pun menandatangani aplikasi gw dan daddy dengan sejumlah syarat. Syarat buat gw adalah gw harus me list semua pekerjaan gw dan semua kontak dan semua bidang kerja yang berkaitan dengan pekerjaan gw selama 2 tahun lebih ini. Bukan pekerjaan sulit, tapi membutuhkan waktu yang lama. Disamping gw harus mengerjakan pekerjaan yang sekarang dan 2 bulan kedepan. Tapi, gw kerjain dengan senang hati.. Hitung2 my last loyality di sini. *bangga*
Pe er buat daddy pun sama ditambah, daddy harus extend sampai 1,5 bulan baru resign. Oooh.. sudah bertentangan dengan PKB (Perjanjian Kerja Bersama) perusahaan tuh.
 
Ya, menurut daddy, boss expat berusaha untuk menahan kita lebih lama. Dan feedback dari gw dan daddy adalah, terus berjuang sampai hari penghabisan. Karena pekerjaan ga bakal pernah selesai. Setiap hari akan ada job baru yang harus dikerjakan. Begitu seterusnya. Bener kan?
 
 
 

Rabu, 03 April 2013

Perkembangan

Kali ini gw cuma mo share sedikit aja, kelanjutan dari soal kemarin. Sampai hari ini dan detik ini pun application resign letter gw masih belum di sign boss expat gw. Tapi anehnya, aplikasi gw itu dibawa2 kemanapun dia pergi. Kalo ada tamu, dia bawa agendanya bersama aplikasi gw itu. Meeting top management, aplikasi gw dibawa juga. Tinggal daddy yang bingung mau ngajuin aplikasi resign letter gimana caranya. Karena gw aja masih belom goal.
 
Selama gw kerja, dari jaman gw kerja part time pas kuliah dulu, proses resign ga sesulit kali ini. Biasanya menghadap atasan, selesai perkara. Acara pengajuan 2 minggu sampai 1 bulan sebelumnya, itu bukan masalah besar. Selama 4 tahun gw kerja di bidang ketenagakerjaan, belum pernah ada kasus resign yang dipersulit kek gini. Ada juga perusahaan yang begging ke karyawannya kalo ga mau mereka resign dengan memberi kompensasi atau apa. Ini? Digantung! Sama kek kejadian dulu.
 
Gw ma daddy sepakat, sampai akhir bulan ini ga ada kepastian dari boss expat aneh itu, kita berdua tetep cabut dengan mengantongi izin dari general manager. Kita bakal pake cara bypass. Langsung minta ACC ke general manager bukan ke manager gelo macem boss expat itu. -huh!-
 

Selasa, 02 April 2013

ANEH

Sesuai subject diatas, kali ini gw bakal posting soal keanehan yang terjadi disini. Di kantor gw ini.
 
Kalo gw boleh bicara lagi, gw dan daddy bakal resign akhir bulan ini. Kita berdua bukan mo pindah ke perusahaan yang sama. Ato mau menikah (hayah!) Ato malah mau mengakhiri hidup bersama (amit2!). Kita mo ngelanjutin idup masing2 dengan mimpi masing2 dan cita2 masing2.
 
Umumnya, karyawan yang mo resign, pastinya bakal menyelesaikan segala urusan plus tetek bengek yang ada di kantor sebelumnya. Biar lega memulai kerja di kantor baru. Biar yang ditinggalkan merasa ga terbebani. Betul gak? Yang punya job desk masih belom khatam, di khatamin dulu. Yang punya project belom finish, di finishin dulu. Yang punya utang di kantin, di lunasin dulu. Yang punya pacar di kantor, di putusin dulu. #eh!
 
Gw dan daddy pun begitu. Kita berjuang menyelesaikan segala urusan yang belum terselesaikan disini. Dengan power yang melebihi powernya power rangers, melebihi kekuatan bulannya sailor moon, mencoba mem finish kan pekerjaan hingga 2 bulan kedepan. Itu tekad gw dan daddy. Pokoknya kita berdua ga mau menyusahkan penerus kita nanti. Karena, untuk terjun disini aja uda cukup sulit. Dan kita berfikir, mempermudah orang lain akan mempermudah diri sendiri nantinya. Sounds great yah! Dan di 3 minggu terakhir ini kita berdua menenggelamkan diri dengan segala pekerjaan sampai rela melemburkan diri.
 
Gw fikir, apa yang gw dan daddy lakukan adalah wajar dan patut didukung serta diacungi jempol kaki. Nyatanya, apa yang kita kerjakan disini, memancing reaksi yang aneh dari rekan sekerja kita.
Beberapa rekan sekerja yang tau gw dan daddy  akan resign berlomba2 untuk meng over handle pekerjaan yang sebenarnya memang pekerjaan kita. Semua harus diselesaikan hari ini juga. Kalo bisa detik ini juga. Gw dan daddy jadi aneh sendiri. Apakah mereka fikir, karena gw dan daddy akan resign, maka gw dan daddy bakal lepas tangan sama pekerjaan yang ada? Bakal acuh sama tanggung jawab yang tersisa? Meninggalkan banyak pendingan pekerjaan dan tanggung jawab untuk orang yang masih ada, kemudian melenggang kakung berjalan ke pekerjaan yang baru.
 
HEY!! Open your eyes napa. Gw dan daddy ga se rendah itu. We're not shallow kalee. Kita masi waras inih... Masih mau bekerja hingga hari terakhir pengajuan resign. Sampai hari penghabisan disini. Ga usah pada takut lah. Kita orang bukan pengecut. Yang lari dari tanggung jawab dan masalah.
Jadi, ga usah berkerumun di depan meja kita deh. Kek pembagian sembako tau gak. Herannn deeeeeeeehhh.. >>,<<
 
gw dan daddy. (sok imut banget gw)

I'M QUIT!!!

Seperti yang uda gw bahas kemarenan, sampe bosen dah keknya. hihihi. Gw kan mo resign, Alhamdulillah! dan di perusahaan gw ini, kalo mo resign, pengajuannya kudu 1 bulan minimal sebelumnya. Udah gitu, kudu dapet ttd acc dari atasan minimal 3 orang. Artinya, setelah TTD daddy, gw harus minta ttd boss expat gw dan selanjutnya general manager (kalo yang ini, orang indonesia, baeknya hampir sama kek baeknya daddy).
 
TTD daddy uda gw dapet, yah, daddy juga kan mo resign, selanjutnya boss expat nih. Sayangnya dia masih pulang kampung ke negaranya sono semingguan kemaren. Dan baru hari ini. Iyaaa,,, hari ini, dia masuk kerja. At this morning, gw ajuin tuh surat resign gw. Gw yang terlalu cinta bahasa ibu pertiwi ini bikin surat resign ga pake bahasa universal, bahasa persatuan di kantor gw, yakni bahasa Inggris (motto kantor gw : berbahasa satu, bahasa Inggris), dan itu pemicu boss expat gw nanya "excuse me? what this is?". Dan dengan senang rendah hati : "this is my resign letter, sir" <sambil senyum manis>
And u know, what the respond??? Dia senyum, maniss banget. Ga pernah seumur2 dia join di perush ini gw liat senyum semanis itu. Apa dia seneng yah, gw resign? Apa dia mo mamerin pasta gigi baru nya dia? Ato dia liat sesuatu yang lucu di muka gw? Apa? Apa? Kenapa dia bisa senyum gitu?? Gw cuma bisa bertanya2 dalam hati, daaaannnnnnnnn,,, resign letter gw ga di ttd saat itu, sambil senyum dia bilang "i'l take this, and will give to you soon". -glek-. Gw pun balik kanan bubar jalan.
 
Kemudian boss expat gw pun mengajak boss general manager gw buat meeting sambil bawa application resign letter gw. Keknya boss expat gw itu ga tau kalo daddy mo resign juga. Gw yakin, pas keluar dari ruang meeting, boss expat gw itu bakal manyun (as usual) karena di kasi tau sama boss general manager kalo daddy ikutan resign . hehehehe. *ketawa setan* ups!
Bukan mo sombong ato meng GE ER kan diri, tapi, sebuah departement tanpa staff didalamnya, bakal jadi apa? Kecuali hire orang baru. Dan gw rasa, untuk hire orang baru dan harus beradaptasi di departement ini, agak susah. Karena scope of work yang dijalanin beda dari yang biasanya. Can u imagine? Konotasinya gini, kalo dateng ke restorant, trus mo makan, pasti kita bakal dikasih menu yang isi nya nama2 jenis makanan beserta harganya. Kita pilih mana yang pas (di kantong juga tentunya) baru deh, eksekusi dilaksanakan. Makanannya datang, lalu kita membayar. Selesai. So simple. Right?! Kalo disini, eksekusi dulu dilakukan, setelah berbulan2 kedepan setelah eksekusi, baru kita disini disibukkan dengan pembuatan penawaran harga. Yang belum tentu juga bakal di approve sama customer. Penawaran pun akan berubah setiap kali ada pekerjaan. Bukan penawaran bersifat umum. Ribet? Pasti. Wasting time? Iya banget. Makanya kenapa Marketing dept disini tuh ga pernah keluar2 cari pasar, macem marketing pada umumnya. Kita terlalu disibukkan oleh pekerjaan dokumentasi di kantor. Ya, walopun emang sih, customer berdatangan laksana lalat mendatangi makanan. Namanya juga perusahaan Jepang, terkenal kualitasnya yang oke. Customer yang berdatangan pun ga jarang gw tolak secara 'halus' karena kita uda over job ato customer yang dateng 'cuma' dalam skala 'kecil'. *sombong*
Baru kali ini kan, marketing nolak pasar? Cuma ada di perusahaan gw. Hebat kan? hehehehehe.
 
Sekarang gw lagi deg2an nih, boss expat gw belom selese meetingnya. Apa ya yang mereka bicarakan?? Mungkin ga pengajuan resign gw ditolak? Gw terlalu berlebihan ga sih? Gw kan disini 'cuma' staff. Bukan macem daddy sebagai staff ahli.
 

Senin, 01 April 2013

GARA GARA SUBUR

Belakangan ini lagi hot - hot nya berita Adi Bing Slamet yang merasa di 'sesat' kan oleh seonggokorang yang bernama eyang Subur. -ga usah gw jabanin panjang kali lebar sama dengan luas juga kali yah di postingan gw ini perihal battle antara Adi versus Subur. Pasti pada lebih tau dibanding gw yang cuma bisa nonton gosip pas jam makan siang di kantin. (kalo di rumah kudu ngalah sama oom yang doyan nonton saluran olahraga ato berita sekalian)-
 
Sebagai wanita karir yang juga istri rumah tangga, acara nonton baru bisa gw lakukan kalo semua pekerjaan rumah uda selese. Dan biasanya bertepatan dengan jarum pendek jam menunjukkan ke angka setelah 9 malam. Mana ada siaran gosip jam segitu. Ya gak? So, kalo ga googling cari info ter update di web, kalo ga, ya itu deh, nonton tv pas makan siang di kantin.
 
Pekerjaan gw sekarang, adalah di bidang jasa logistik. Mencakup eksport - import, legal, warehouse juga transportasi. Dan gw ada di bagian office nya. Kantor gw sekarang terdiri dari ribuan tenaga kerja yang prosentase terbesarnya adalah di bagian operasional. Gw, yang di office, letaknya berjauhan dengan 'office2' para pekerja operasional itu. Namun, kita semua akan di persatukan saat jam makan siang. Di aula kantin yang luas, selayaknya para pengungsi yang menanti jatah raskin. Gw yang bekerja di office depan, ga begitu kenal (bahkan ga kenal sama sekali) sama para pekerja yang di 'office' belakang. Disamping jumlah mereka yang sangat banyak, juga berganti2, dikarenakan status pekerja mereka jarang yang karyawan tetap.
Biasanya kalo di kantin pada saat jam makan siang itu, gw bakal makan mengelompok di meja yang isinya pekerja office depan. Dan para pekerja 'office' belakang akan menggerombol pula. Makin ga kenal lah kami semua.
 
Suatu siang, kebetulan di monitor tv kantin menayangkan adegan berapi2 seseorang yang mengaku 'korban' dari eyang Subur. Gaya bicaranya yang berapi2, menggelegar, berteriak, membuat gw, dan hampir seluruh karyawan yang sedang makan di kantin ikut 'terbakar' dengan 'orasi' si 'aktor' tersebut. Dan tanpa ragu, kami semua mengangkat sebelah tangan kita ke atas kepala sambil mengepal dan berteriak 'MERDEKA'. Begitu terus sampai sang 'aktor' berhenti ber 'orasi' dan tayangan pun berganti ke tayangan iklan. Setelah itu, kami tertawa bersama. Menertawakan 'kekompakan' kami semua dalam perjuangan versus eyang Subur.
Situasi yang dahulu saling cuek, karena kami sama2 ga kenal. #tak kenal maka tak sayang#. Sekarang, walopun kami masih ga tau nama masing2 dari kami, minimal, setiap kami berpapasan, kami selalu melempar senyum, walau tipis, sama2 membayangkan 'perjuangan' kami di kantin kemarin.
 
Ah,,, damai rasanya hati ini. Saling melempar senyum (yang pasti gratisan juga ga bikin kepala benjol karena dilempar senyum bertubi2) dengan sesama manusia disini. Semua berkat eyang Subur nih. Kalo ga ada pemberitaan mengenai dia, pasti deh acara makan siang disini sama seperti acara makan siang hari2 sebelumnya. Walaupun kita disatukan dengan 1 seragam yang sama, tapi kita ga saling mengenal. Saling berjauhan dengan tatapan mata yang ga bersahabat. Sekarang, berkat Subur kita jadi saling 'mengenal' walopun tidak 'sedekat' hubungan Adi bing Slamet vs eyang Subur.

Kamis, 28 Maret 2013

Tentang Daddy

Kalo selama ini gw sering mosting soal boss expat gw yang jahatnya amit2. Sekarang waktunya gw bahas tentang boss local (ato boss inland) gw yang baeknya amit2. Nama aslinya sebenernya RONI. Umurnya beda 10 tahun sama gw dan lebih tua 1 tahun dari boss expat gw yang childish abis itu.
Gw biasa manggil pak Roni ini dengan sebutan Daddy. Karena sikap dan sifatnya yang ke-ayah-an banget. Pertama kali join di perusahaan ini, gw lebih dulu 14 hari join disini baru daddy. Daddy pernah bilang ke gw dan temen kerja gw begini.
 
Daddy : "Saya bukan atasan yang otoriter. Seandainya kalian ga bisa untuk bekerja lembur, jika diharuskan, silahkan. Saya ga memaksa. Pun soal pekerjaan".
Gw pun menjawab : "Kami semua juga bukan bawahan yang otoriter pak. Suatu saat kami juga butuh overtime".
Dan, demi mendengar jawaban sableng dari bawahan yang juga sableng, daddy pun tersenyum, para bawahanpun ikut tersenyum, kemudian kita berpelukan laksana Telletubies. *oke, point terakhir itu ga bener*
 
Daddy ini tipe boss yang easy going. Mau terima pendapat orang lain, dan selalu pasang badan kalo dept nya (ato bawahannya) melakukan kesalahan didepan dept lain. Kemudian, daddy bakal manggil bawahan yang salah, dan dikasih tau mana letak kesalahan kita, kemudian diajarin bagaimana yang sebaiknya dilakukan. Figur boss yang baik. Ga pernah rela anak buahnya diomel2in dept lain walopun emang kesalahan anak buahnya sendiri. Ga pernah malu juga mengakui kesalahan kalo ternyata dia salah. Filosofi bahwa boss selalu benar jadi terbantahkan karena daddy gw ini.
 
Karena pembawaan easy goingnya daddy gw, ditambah watak yang ramah dan,,, ehm,, ganteng juga, membuat daddy jadi banyak fans di kantor gw ini. Sebagai bawahan, justru jadi kebanggan buat gw. hihi. Jabatannya sebagai manager marketing dibawah kuasa boss expat gw, membuat daddy banyak menerima tekanan dari boss expat gw lebih besar dan lebih banyak dari yang gw terima. Lambat laun daddy gw juga jadi ga betah dan berencana buat out dari sini. (sama kek gw)
 
Terlepas dari 'horor'nya boss expat gw, antara daddy dan gw terjalin hubungan atasan-bawahan yang klop. Bagaikan kemeja dengan celana bahan. Kaos kaki dengan sepatu. Roti dengan meisesnya.
Dari awal, daddy emang pengen menciptakan kondisi kerja yang akrab, kekeluargaan dan kondusif. Terlepas dari pengaruh 'buruk' si boss expat jahat itu, kondisi kerja dalam departemen marketing sangan baik dan akrab. Saking baik dan akrabnya, ga jarang gw suka berantem sama daddy.
 
Berantemnya gw dan daddy pastinya soal pekerjaan. Gw yang teguh pendirian kalo emang bener (menurut gw) versus daddy yang notabene lebih banyak pengalaman dibanding gw. Berantem nya gw dan daddy mirip anak kecil berantem rebutan lollipop. Sama2 teriak, sama2 manyun. Ujung2nya gw yang harus mengibarkan bendera putih karena 'harus' kalah dan mengikuti kemauan daddy. Walopun gw kalah, gw melakukannya dengan setengah hati dan bibir manyun. Kalo udah gitu, daddy bakalan ketawa cekikikan jail karena berhasil bikin gw keki. Dan, kalo ternyata pendapat daddy yang salah (pendapat gw yang bener), gantian gw yang cekikikan jail dan giliran daddy yang manyun.
 
Karena kebijakkan boss expat gw yang akan menghapus departemen gw dan daddy, membuat gw dan daddy makin dekat. Karena sekarang tinggal gw dan daddy salah 2 personil dalam departemen kami. Personil laen udah dimutasi. Banyaknya pekerjaan yang dateng, tanggung jawab yang harus dihadapi, beragam masalah yang harus diselesaikan, membuat gw dan daddy bekerja bahu-membahu. Lebih keras dari usaha karyawan di departemen lain yang 1 departemen bisa terdiri dari belasan orang. Sedangkan departemen gw? Cuma 2 orang. Gw dan daddy. Yah, karena cuma berdua, bagaikan nahkoda dan anak buah kapal, kita berusaha mengarungi dahsyatnya badai dalam lautan pekerjaan ini. *lebay*
 
Jujur, gw anggep daddy adalah bokap gw di kantor. Dan daddy juga anggep gw anak sulungnya (yang bandel) di kantor. Daddy kenal deket sama oom (yang membuat gw lebih tenang deket sama daddy, karena oom kenal daddy. Kalo oom ga kenal siapa yang deket ma gw di kantor, bisa cemburu buta si oom). Gw pun kenal deket sama istri dan anak2nya daddy. Bahkan daddy membahasakan anak2nya adalah 'adek' buat gw. Walopun, tetep gw menaruh hormat juga sama daddy di kantor. Walo bagaimanapun, dia kan atasan gw. Herannya, daddy suka pake PC gw. Lazimnya manager-up di kantor gw, dikasih fasilitas laptop. Bukannya pake laptopnya, daddy lebih sering duduk di kursi gw dan pake PC gw. Ujung2nya daddy lupa matiin PC gw kalo uda selesai make, dan biasanya keesokan harinya gw bakal ngomel2 sama daddy. Kurang ajar? Emang! hahahahaha. Daddy tuh ga hemat! Kalo ngeprint juga maunya pake kertas baru. Bukan recycle paper. Gak Go Green deh! Kalo gw udah ngomel2 gitu, daddy bakalan diem dan pasang muka bersalah.. *ketawa puas gw* Dan selanjutnya kalo daddy mo pake PC gw lagi sepulang nya gw, daddy bakal ijin dulu dengan ditambahi pesan "besok saya jangan dimarahin kalo lupa matiin PC nya yah". Ah,, so sweet deh daddy.
 
Kalo gw dan daddy suka berantem, ujung2nya kita ga pernah dendam. Makan bareng di kantin, ato ngemil bareng di koperasi.  Beda sama boss expat gw. Dendam kesumat sampe dibawa mati. HUH!
 
Sekarang, daddy mau out dari kantor gw (barengan ma gw yang mo out juga c). Awalnya daddy sempet ngajakin gw buat ikutan kerja sama dia sebagai team nya dia. Karena posisi barunya dia di perusahaan baru adalah top manager, otomatis mampu memberikan kekuasaan absolute buat ngerekrut karyawan buat nanti bergabung di team nya dia. Mungkin daddy tau kinerja gw selama ini dan tertarik buat hire gw. Yah, walopun gw sering rese kalo kerja, suka berantem sama daddy, suka cerewet mengkampanye kan go green di kantor ini, tapi justru itu poin plus gw di mata daddy. Gw bertahan sama pendapat gw yang gw yakinin benar, dan baru akan hengkang dari pendapat gw itu setelah mendapat pembuktian2 yang mematahkan keyakinan gw atas pendapat gw itu.
Daddy pun 'melamar' gw buat ikutan kerja bareng dia. Duh, daddy, bukan saya ga mau ikutan. Setelah lama kita bersama (tsahh), kebersamaan yang terjalin, bikin saya berat buat bilang engga. Tapi sayang lokasi kantor baru nya daddy terlalu jauh buat saya. Jadi, Im sorry goodbye yah daddy. :(
 
Sekarang, di sebulan terakhir gw dan daddy di kantor ini. Sebulan terakhir juga kebersamaan gw dan daddy sebagai bawahan dan atasan (mungkin selanjutnya kita bisa dibilang sebagai keluarga). Sebulan terakhir gw bisa berantem sama daddy memperjuangkan pendapat masing2 (oooh, i will missing this condition). Sebulan terakhir ini jadi bulan terakhir daddy make PC gw tanpa pernah dimatiin lagi. hmmm, gw jadi kangen daddy. #eh!
 
 ini cake waktu daddy ultah. Hasil patungan 'para bawahan' buat beli taart nya

 Happily Marketing Family
 
 
 
 

FINALLY or INITIALLY

Penantian dan pengorbanan gw terjawab sudah. Setelah lama terzolimi disini, disini dan disini. Juga setelah penantian yang ini, yang ini dan yang ini. Dan juga beberapa penolakan dari gw sendiri (sebagai job hunter, gw juga punya hak nolak pekerjaan dari perusahaan yang hendak menerima kita sebagai karyawan lho), akhirnya gw mendapatkan 1 pekerjaan yang pas di hati (juga pas buat masa depan gw). Insha ALLAH.
 
Jujur, belakangan ini gw lagi menjalani 3 assessment tahap akhir. Dan ketiganya memberikan progress baik. Gw bingung. Tanya sana sini, ujung2nya kembali ke hati gw sendiri. Dan gw masih tetep bingung. Gw pun minta bantuan ALLAH SWT. Gw solat istikharah. Minta tolong ditunjukkan mana pilihan terbaik (sama kaya waktu gw solat istikharah antara memilih oom atau mantan gw). Sejauh perjalanan, ALLAH berkenan menunjukkan yang terbaik. Dengan caraNYA, dan dengan pertolongan tanganNYA, singkatnya gw mendapatkan jawabannya. Insha ALLAH gw terima. Ikhlas. Alhamdulillah ya ALLAH. *sujud syukur*
segala puji bagiMU ya ALLAH
Kadang gw berfikir, ini mungkin jawabanNYA kenapa gw ga pernah goal assessment CPNS. Biar gw yang moody an, suka bosenan ini bisa 'seenaknya' loncat2 ke perusahaan laen. Kalo jadi PNS, kan ga mungkin gw resign? Suka ato engga sama kondisi kerja nya, harus ditelen sendiri. Kalo diswasta gini, kondisi ga oke, bisa cao.
Tapi,,, gw bukan orang yang ga tahan tekanan dan kondisi kerja. Gw adalah orang yang paling survive diantara temen2 kerja gw.
*trus, kenapa resign?*
Sebenernya, di perusahaan ini adalah perusahaan yang bakal jadi perusahaan terakhir dimana gw kerja. Gw bakal resign, kalo gw pensiun nanti. Itu mau gw. Ternyata, diperjalanan. Kejadian boss expat gw yang aneh bin ajaib itu bikin gw dan beberapa karyawan sini gerah. Bahkan Daddy (gw biasa manggil boss inland gw yang super baek disini dengan sebutan Daddy) pun berencana hengkang dari perusahaan ini. Setelah beberapa temen2 kerja gw yang udah resign duluan, tibalah saat gw dan daddy resign juga. Kalo masalahnya adalah, dimanapun kita bekerja, pasti kita bakal dihadapkan pada kondisi yang sulit juga, tentunya bukan kondisi yang abnormal kaya sekarang gw dan daddy gw rasain.
Boss expat gw ini super aneh. Sampe direktur yang juga Japanese dan General Manager gw (bukan Japanese) geleng2 kepala sama kebijakkan boss expat ini. Kalo bukan bapaknya si boss expat ini adalah pemegang saham terbesar di perusahaan ini, mungkin ga ada yang sudi menerapkan kebijakkan boss expat gw ini. Nepotisme masih berlaku juga ternyata. *pegang kepala*
 
Kemarin gw selesai membuat surat resign, dan hari ini bakal gw ajukan ke daddy gw, lanjut ke boss expat gw trus ke general manager kemudian ke HRD. 1 bulan lagi gw bekerja disini. Awal Mei gw udah ditempat baru. Perusahaan baru, dengan suasana yang juga baru. Semoga bisa menjadi akhir yang baik di perusahaan gw ini dan bisa menjadi awal yang baik di perusahaan baru gw ntr.
 
Gw bakal resign barengan tanggalnya sama daddy gw. Sedangkan daddy akan bekerja di tempat yang berbeda dengan tempat gw kerja ntr. Semoga semua nya bakal jadi yang terbaik buat kita semua ya... *salaman sama daddy*